SDN RAJEG V SEKOLAH ADIWIYATA TINGKAT NASIONAL TAHUN 2023

11 Oktober 2017

Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Dasar



Lomba Menulis Feature Sekolah Dasar
Tema : Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Dasar

Melaksanakan Kurikulum 2013  di  Sekolah Dasar
Penulis : Munayah,S.Pd.SD

Raut wajah pendidikan  negeri kita masih jauh tertinggal dalam banyak hal. Pergantian kurikulum dibeberapa periode semakin menguatkan ketertinggalan tersebut. Kurikulum menurut Undang Undang nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Metamorfosis kurikulum di Indonesia tentunya diharapkan mendapatkan hasil akhir yang bisa jadi solusi untuk berbagai permasalahan pada kurikulum sebelumnya. Pengembangan kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu.
Kehadiran Kurikulum 2013 disambut antusias sekaligus tanda tanya dikalangan kami selaku pendidik. Melihat jarak dari kurikulum sebelumnya (2006) , tentunya Kurikulum 2013 menjadi angin segar dan harapan dapat menggantikan KTSP 2006  secara lebih baik. Berbagai Pelatihan dan Pendidikan digelar untuk mensosialisasikan Kurikulum 2013. Diawali dengan pendataan dan pemanggilan beberapa sekolah yang menjadi sasaran, sosialisasi dan implementasipun  mulai dilaksanakan. Pelatihan awal dilaksanakan pada akhir tahun ajaran guna bahan persiapan penerapan diawal tahun ajaran baru 2013. Berbagai spekulasi muncul dari kami selaku pendidik yang tergabung dalam beberapa kali pelatihan. Narasumber dan para Tutor pelatihan menyangkut Kurikulum 2013 sebelumnya mendapatkan pelatihan terlebih dahulu di beberapa titik kota pada tiap provinsi. Namun keterbatasan pelatihan yang bagi sebagian besar berasumsi kurang persiapan dan terkesan mendadak, menjadikan proses penyampaian berkendala dan sulit diterima mayoritas sekolah sasaran.
Perubahan mindset atau pola pikir para pendidik dari kurikulum sebelumnya ke Kurikulum 2013 bukanlah hal mudah. Pemahaman terhadap tujuan, isi dan cara mengimplementasikan Kurikulum 2013 membutuhkan proses, contoh dan sarana prasarana yang memadai. Pengiriman buku paket Tematik untuk kelas 1 dan kelas 4 sebagai kelas awal penerapan Kurilulum 2013 dirasa bukan solusi yang signifikan. Berbagai kendala justru muncul seiring penggunaan buku paket yang terdiri dari Buku Siswa dan Buku Guru tersebut. Hal tersebut belum seberapa bila dibandingkan dengan  permasalahan tentang “Penilaian” yang sampai saat ini masih menjadi kendala besar dalam penerapan Kurikulum 2013.
Permasalahan tidak berhenti sampai pada penilaian semata. Laporan hasil belajar atau Rapor juga menjadi kendala . Banyaknya adminitrasi Kurikulum 2013 yang harus dikerjakan guru dirasa memberatkan dan menambah beban mengajar bagi sebagian guru. Intinya bayang-bayang KTSP 2006 masih melekat dan dianggap nyaman bagi proses kegiatan belajar mengajar disekolah Dasar. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, menurut pendapat saya pribadi sebagai salah seorang tenaga pendidik di salah satu Sekolah Dasar di wilayah perbatasan Ibukota. Entah apakah ini dirasakan juga oleh rekan Guru lainnya. Banyak hal positif dan perubahan cara pembelajaran yang menarik untuk dilaksanakan bersama peserta didik. Suasana kelas menjadi lebih hidup, menyenangkan dan membangkitkan semangat belajar peserta didik. Kreatifitas dapat lebih dimunculkan karena kesempatan peserta didik untuk berinteraksi lebih fleksibel dan terbuka. Kegiatan Belajar Mengajar dapat lebih terencana karena adanya panduan Buku Guru yang berkorelasi dengan Buku Siswa pada tiap Tema.
Seiring proses masalah baru dalam penerapan Kurilulum 2013 muncul. Kelas 2 dan kelas 5 yang merupakan kelas lanjutan pelaksanaan Kurilkulum 2013 ternyata menuai banyak kendala yang lebih besar dari sebelummya. Adanya isu penghapusan Kurikulum 2013 memicu pro dan kontra berbagai kalangan. Bagi pendidik tentunya ini membingungkan dan menjadikan peserta didik menjadi “Korban” ujicoba kebijakan pendidikan. Alhasil mayoritas Sekolah Dasar yang menjadi sekolah Sasaran penerapan Kurikulum 2013 mengajukan pengunduran diri dan kembali menggunakan KTSP 2006. Di wilayah tempat saya bertugas hanya tersisa sebagian kecil sekolah Sasaran yang tetap melaksanakan Kurikulum 2013 dengan alasan dan berbagai pertimbangan. Tentunya dengan menaruh harapan adanya perbaikan sistem pendidikan yang lebih memudahkan Guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Berjalan dengan banyaknya keterbatasan dan minimnya informasi mengiringi langkah penerapan Kurikulum 2013 hingga jenjang kelas lanjutan berikutnya yaitu kelas 3 dan kelas 6. Sehingga seluruh jenjang kelas pada Sekolah Dasar tempat saya bertugas resmi seluruhnya menerapkan Kurikulum 2013. Pengiriman buku paket Tematik yang sempat menjadi kendala pada jenjang kelas 2 dan kelas 5, kembali lancar pada kelas lanjutan berikutnya. Namun kendala besar lainnya muncul dijenjang kelas 6 sebagai kelas akhir kelulusan peserta didik. Kegiatan Belajar Mengajar  yang menggunakan Buku Tematik sebagai acuan dan patokan menjadi bumerang bagi nilai akhir kelulusan peserta didik. Dilema bagi pendidik dimana dalam keseharian menyuguhkan pembelajaran beberapa mata pelajaran yang terintegrasi dalam tiap tema, namun diakhir dituntut untuk dapat mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi Ujian Nasional.
Apabila dalam jejang kelas sebelumnya pendidik harus dapat menuntaskan setiap pembelajaran pada buku Tema secara tuntas, memberikan ekstra materi tambahan dalam moment ajang perlombaan bidang studi. Mengingat dangkalnya materi yang terkandung pada tiap buku tema, sehingga buku referensi lain menjadi wajib sebagai pegangan buku Guru. Ternyata dijenjang kelas 6 masalah lebih besar muncul. Tugas pendidik untuk dapat menghantarkan peserta didik mencapai nilai kelulusan yang baik, tentunya bukan perkara mudah karena antar KBM dan Ujian tidak berkorelasi.
Sekolah Dasar lain yang tidak menggunakan Kurikulum 2013 pastinya tidak ada kesulitan karena dalam kesehariannya peserta didik sudah terbiasa dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika. Sehingga persiapan menghadapi Ujian Nasional lebih matang dan sesuai dengan apa yang diajarkan. Hal ini menjadi bahan evaluasi besar dalam menerapkan Kurikulum 2013. Apabila peningkatan Karakter yang jadi tujuan utama Kurikulum 2013 pada jenjang Sekolah Dasar, mengapa Ujian Nasional masih menjadi tolak ukur bagi kelulusan peserta didik ?
Berbagai spekulasi dan pertanyaan muncul dikalangan pendidik. Ketidak matangan kebijakan dan kurangnya persiapan dalam mensosialisasikan Kurikulum 2013 memunculkan banyak sekali kendala dan kerancuan. Mau dibawa kemana arah dunia pendidikan kita bila sistem yang ada belum mampu mengcover kendala pada kurikulum sebelummya. Guru yang seyogyanya berkewajiban mengajar dan mendidik anak-anak negeri agar dapat menjadi insan yang lebih cerdas dan mampu bersaing mencapai cita-citanya, harus pula diresahkan dengan berbagai kebijakan pendidikan yang ternyata sampai saat ini belum mencapai titik cerah.
Kehadiran Kurilukulum 2013 yang dinanti dan diharapkan menjadi solusi perbaikan sistem pendidikan di indonesia masih membutuhkan evaluasi besar. Konsep dan rasional Kurikulum 2013 yang relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik tidak serta merta begitu saja mudah diterapkan. Kenyataan dilapangan tentunya hanya akan dirasakan Guru sebagai tenaga pendidik yang secara langsung terjun dan menerapkan kebijakan tersebut. Permasalahan yang munculpun akan pertama kali ditemukan Guru dalam proses penerapannya.
Tujuan menciptakan peserta didik yang berkarakter dan berperilaku sesuai kompetensi yang diharapkan dalam Kurikulum 2013 merupakan tanggung jawab bersama. Berbagai pihak tentunya harus dilibatkan baik sekolah, masyarakat sekitar dan tentunya keluarga yang menjadi acuan utama perubahan perilaku peserta didik. Namun fakta yang terjadi, dengan menerapkan Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar masih banyak pihak keluarga dan orangtua peserta didik yang belum jua memahami  sekalipun sosialisasi tentang Kurikulum 2013 telah disampaikan dalam  Rapat Wali Murid di awal Tahun ajaran Baru. Ketidakpuasan muncul melihat hasil laporan prestasi akhir (Rapor) yang jauh berbeda dengan KTSP 2006 dan kurikulum sebelumnya. Mengubah pola pikir masyarakat akan lebih sulit mengingat kurikulum merupakan hal yang asing bagi nonkependidikan.
Langkah pemerintah pusat guna memaksimalkan penerapan Kurikulum 2013 patut diapresiasi. Kendatipun masalah yang muncul hingga saat ini masih menjadi kendala besar bagi kami sebagai tenaga pendidik. Sekalipun lokasi bertugas berdekatan dengan Ibukota, Sekolah Dasar Negeri tetap memiliki keterbatasan dalam penerapan Kurikulum 2013. Tak terbayangkan bagaimana dengan saudara-saudara kami yang ada di pedalaman dan wilayah 3T...? keterbatasan teknologi tentunya menjadi masalah utama, mengingat banyaknya Aplikasi yang berkenaan dengan Kurikulum 2013. Kurangnya informasi yang berkenaan dengan Kurikulum 2013 masih dirasakan oleh hampir seluruh Sekolah Dasar yang menerapkan kebijakan tersebut. Penerapan yang dibuat bertahap semakin menambah daftar panjang keterbatasan Kurikulum dan persiapan dalam implementasinya. Informasi yang dibutuhkan tentang kurikulum selalu datang terlambat dan pada akhirnya berimbas tidak ada kesesuaian dengan Program Tahunan dan Program Semester yang direncanakan. Alhasil kegiatan belajarpun harus kejar-kejaran dengan program yang ada.
Kurikulum negeri kita masih tergolong kaku dan kurang fleksibel, tentunya bila kita melihat dan mau membandingkan dengan negara-negara lain. Tingkat kemampuan rata-rata peserta didik masih dibawah rata-rata dari standar yang ada. Kendatipun ada sebagian kecil anak bangsa yang dapat berprestasi bahkan sampai ke mancanegara, tentu harus kita garis bawahi bahwa itu hanya beberapa saja. Bagaimana dengan peserta didik kita yang lain...mereka seyogyanya adalah anak-anak negeri yang juga membutuhkan perhatian agar dapat juga berprestasi dan menggapai cita dan harapan .
Harapan Guru sebagai tenaga pendidik terhadap kebijakan pemerintah pusat berkenaan dengan Kurikulum 2013 tentunya bukanlah harapan semu. Langkah kongkret solusi terhadap kendala kurikulum 2013 sangat dinanti dan diharapkan dibuat berdasarkan pengamatan langsung dalam proses penerapannya. Negeri kita juga memiliki mimpi besar untuk dapat berprestasi dan bersaing dengan negara lain. Anak-anak bangsa Indonesia tentunya ingin juga dapat tercapai apapun yang menjadi cita-cita mereka. Ketidaksempurnaan Kurikulum yang kita miliki saat ini semoga tidak menyurutkan semangat peserta didik kita dalam menuntut ilmu dan seyogyanya semakin mengingatkan kita sebagai Guru untuk lebih bertanggungjawab membantu mewujudkan mimpi-mimpi besar anak-anak Negeri tanpa terhalang kebijakan pendidikan serta tanpa batasan kurikulum. Semoga mendapatkan solusi untuk kita semua.

18 Agustus 2017

SDN RAJEG V MENGUCAPKAN SELAMAT HUT RI Ke 72

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 72

Pada kesempatan kali ini Admin membagikan dokumentasi Video HUT RI ke 72 yang di selenggarakan di Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang yang menampilkan Defile Kelurahan dan Desa yang ada di Kecamatan Rajeg dan bisa di jadikan perbandingan HUT RI Tahun depan buat defile Kelurahan dan Desa yanag ada di Kecamatan Rajeg.

Kelurahan Sukatani


Desa Lembangsari

Desa Rajeg

Desa Daon

Desa Sukasari

Desa Tanjakan Mekar

Desa Jambu Karya

Desa Mekarsari

Desa Tanjakan

Desa Rajeg Mulya

Desa Rancabango

Desa Pengarengan


Itu video dokumentasi yang dapat saya rekam dan saya share 
kurang lebihnya mohon maaf dan semoga menjadi motivasi bagi desa dan kelurahan khususnya yang ada di Kecamatan Rajeg Umumnya di seluruh  kabupaten Tangerang.

INDONESIA KERJA BERSAMA








3 April 2017

Lomba Tingkat SD Se-Kab. Tangerang


Persiapan Pemberangkatan



Upacara Pembukaan Lomba Pelajar Tingkat SD Se-Kabupaten Tangerang
Tahun 2017